MENGENAL UPAKARA MULAWARMAN DALAM PRASASTY YUPA DAN MENJADIKAN AKSARA YUPA SEBAGAI AKSARA KALIMANTAN TIMUR DARI KERAJAAN SAGARA DI MUARA KAMAN
Gambar MAHARAJA KUTAI MULAWARMAN DAN KERABATNYA DI MAMANCANEGARA
MENGENAL UPAKARA MULAWARMAN DALAM PRASASTY YUPA DAN MENJADIKAN AKSARA YUPA SEBAGAI AKSARA KALIMANTAN TIMUR DARI KERAJAAN SAGARA DI MUARA KAMAN
Tentang Nama Kerajaan di Muara Kaman bermula dari Kerajaan Malaya satu Pravatam Sadiva Malaya tertuang dalam prasasty Yupa merupakan wilayah yang dipimpin oleh Maharaja Sri Kudungga sebagai Tahani ke VI berdiri sejak Tahun 17 Masehi -375 Masehi dan namanya diganti Kerajaan Sagara oleh Maharaja Aswawarman sebagai Raja Segara I pada tahun 375 Masehi dan berdasarkan Candra Sengkala berdirinya Kerajaan Segara berdasarkan kata-kata Tuah Emba Arai / Paksi Alapa Patha yaitu Paksi = 7 Alapa = 9 Patha = 2 kemudian Angka ini kita balik diketemukan bahwa 297 Saka atau 375 Masehi.
Menurut Sumber dari Pustaka Rājya-Rājya I Bhumi Nusāntara ditulis oleh Tim Pangeran Wangsakerta da menyebutkan bahwa Kerajaan Sagara di sebut dengan Kata Bakulapura berasal dari Bakula artinya Muara dan Pura artinya Kota jadi Bakulapura artinya adalah Kota Muara, dijaman Kerajaan Salakanagara dan dijaman Kerajaan Singasari dalam bahasa jawa kuno, Muara Kaman dikenal Bakulapura.
Dalam Salasilah Kerajaan Koetai, nama Kerajaan di Muara Kaman disebut Kerajaan Moearakaman / Muarakaman, kata muara sendiri memiliki arti tempat berakhirnya aliran sungai, danau, atau sungai lain; sungai yang dekat dengan laut, Muara Kaman merupakan berakhirnya aliran Sungai Kedang Rantau ke Sungai Mahakam maka kata Bakulapura asal usul nama Muara Kaman sekarang sebgai kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Maka didalam sejarah tidak pernah ada nama Kerajaan Martapura atau Kerajaan Kutai Matadipura akan tetapi nama ini dimaksud dengan nama sebuah bukit Martapura di seberang Muara Kaman dan Nama gelar Kepangeranan Kartanegara yakni Adji Pangeran Anom Panji Mendapa Ing Martapura yang tidak ada kaitanya dengan nama Kerajaan di Muara Kaman.
Nama Kerajaan Kutai Mulawarman di berikan dalam Upacara Adat Mulawarman di Muara Kaman pada tanggal 3-9 September 2001 dan disyahkan oleh Kementerian Hukum Dan Ham Republik Indonesia sebagai Perkumpulan Kerajaan Kutai Mulawarman sebagai Kerajaan yang mewarisi Kerajaan Sagara atau Kerajaan di Muara Kaman.
PENJELASAN TENTANG UPAKARA – UPAKARA YADNYA YANG TERDAPAT PADA PRASASTI YUPA
1. Asmawedha : - Penaklukan Wilayah
- Penguasaan Wilayah
- Pembagian Wilayah
( Upakara Yadnya Asmawedha terdapat pada D.177 )
2. Jiwadanam : - Penyucian diri untuk memperoleh kebaikan
- Derma / Pemberian sesuatu
( Upakara Yadnya Asmawedha terdapat pada D.2c, D.177 )
3. Bahuswarnakam : - Persembahan emas
( Upakara Yadnya ini berkaitan dengan Pangeran )
4. Kalpataru : - Melestarikan alam
- Memperhatikan lingkungan
- Mensejahterakan Rakyat
( Upakara Yadnya Bahuswarnakam dan Kalpataru )
5. Bhagiratha : - Menolong jiwa
- jiwa untuk disucikan
(Upakara dilaksanakan di Waprakesware ( D.2b, D.2d )
Bharata Kanda dari Burma sampai di Indonesia disebut Dwipantara atau Nusantara Sumber keterangan Upakara Yadnya berasal dari Buku Mahabarata dan menurut Pustaka Rajya – Rajya I Bhumi Nusantara kerajaan yang ada di Muara kaman bernama Kerajaan Bakulapura, Bakula = Muara, Pura = Kota jadi Bakulapura adalah Kota Muara, menurut Prasasti Yupo D.2d Nama Kerajaan ini bernama Kerajaan Segara pada Zaman Maharaja Sri Mulawarmma.
Keterangan Yadnya, Yadnya adalah korban suci, devinisi korban suci adalah pengorbanan sebagai tindakan meninggalkan sesuatu yang dianggap bernilai, seperti persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dakshina ( biaya, hadiah ) yang ditawarkan selama yadnya untuk Derma / hadiah dan biaya pelaksanaan Upakara, dalam tradisi Weda yang direkomendasikan adalah sapi, pakaian, kuda, emas, kemudian persembahan yang direkomendasikan susu sapi, minyak kental ( ghee dikenal sebagai minyak samin hewani ) biji – bijian – bijian, bunga, air dan kue makanan ( kue beras misalnya ). Yang menjadi catatan adalah dalam upakara Yadnya tidak ada pembunuhan sapi.
Minyak kental / ghee / minyak samin hewani dalam prasasti Yupa D.175, Dalam tradisi Umat Darma ( Siwa-Budha ) membakar minyak kental dilakukan pada saat ritual “Aarti” dan sebagai minyak lampu untuk upakara bersyukur yang disebut “Diya” atau “deep” selain itu minyak kental juga dipakai dalam pesta perkawinan, pemakaman dan memandikan Murti, dalam perayaan lainnya minyak kental dipakai sewaktu berdoa kepada Siwa dalam perayaan Maha Siwaratri dipakai sewaktu memandikan “Lingga”, minyak kental dipakai bersama empat benda suci yang lain yaitu; gula, susu, yagurt dan madu (lima persembahan suci dinamakan pancamrut), minyal kental merupakan bahan persembahan dalam melakukan Yadnya.
Minyak Kental disebut juga Lemak yang digunakan juga dalam masakan dan tradisi Ayurweda pada masa kerajaan Segara dan ribuan tahun di India, Minyak kental sebenarnya mentega murni yang berasak dari susu sapi dan juga mengandung lemak susu, gula dan laktosa yang dihilangkan. Tidak seperti mentega karena minyak kental tidak akan menjadi tengik mesti disimpan pada suhu kamar dan dapat bertahankan rasa dan kesegaran aslinya hingga satu tahun, sementara minyak lemak dan minyak lain dapat memperlambat proses pencernaan tubuh dan memberi kita perasaan berat di perut, minyak kental justru dapat merangsang sistem pencernaan dengan mendorong sekresi asam lambung untuk memecah makanan. Proses pembuatan minyak kental dihasilkan dari pemisahan padatan susu dan lemak mentega dalam mentega olahan saat didihkan. Proses pengaramelisasi padatan susu sebelum menyaring lemak mentega yang memberikan citarasa kacang-kacangan serta warna yang lebih dalam.
Sapi yang berupa emas seharga sapi dalam prasasti D.175 dan D.177, di-Derma-kan / disumbangkan setelah Yadnya sebagai dana punia, jika hewan sapi maka akan diambil susunya kemudian diolah menjadi minyak kental untuk bahan bakar api suci agni hotra para pandita, pemimpin upakara disebut Dharma Diaksa.
Agama yang dianut dalam kerajaan Segara adalah Agama Dharma atau disebut juga Siwa-Budha atau Budhasiwasti memiliki dua Pandita yaitu pandita Siwa dan pandita Budha, bagi seorang Pandita Siwa kalau tidak memahami Budha dia tidak sempurna, begitu juga pandita Budha kalau tidak memahami ke-Siwa-an dia tidak pariwara, contoh dalam pelaksanaan Upakara Kakawin, Sang mahayanikam, Sandimurti khususnya Upakara potong gigi dan pembakaran mayat (ngaben) pemimpin upakara ada dua Pandita yaitu Pandita Siwa dan Pandita Budha.
Sastra Mistik Sutasoma dijelaskan tentang Siwa-Budha, Sumataka, arjuna wijaya mengenai sikap penganut Siwa-Budha, Sastra mistik bubuksah gagakaking siwa gama keterangan prasasti panempihan tentang Moh Limo; moh madhat ( tidak mabuk atau kecanduan terhadap sesuatu ), moh madon (tidak memainkan perempuan yang bukan istrinya atau zina), moh main (tidak berjudi), moh minum (tidak minuman keras), moh maling (tidak mencuri).
Struktur Siwa-Budha.
Hari Wangsa gelar nara sima yaitu hari hara selalu pada itihasa / pembacaan suci perlindungan pada prahlada penganut wisnu yang saleh konteks siwa disebut kalari perlindung dari Resi dan kalamaya , siwa bairawa disitu ada istilah wira badra bisa diketemukan dalam kisah Salya dalam Prapanca, Sang hyang Sada Bijanana daran sejak candi simping Siwa patista Budha dari Budha lampau mengambil peran Wisnu pada masa kali yuga wajra bairawa / Budha Wajrayana / Tantra Yana gelar Nara Sima adalahdianggap penjelmaan Budhis setara hari hara menjadi hara Budha lahir Siwa-Budha bibitnya Siwa Wisnu.
Mahayana Kuno Tantra Kala Cakra ajaran berkaitan dengan Tantris dalam kisah Bubuksa bertemu bagawatisme atau sebutan lain Wisnu, Siwa-Budha itu melahirkan Kara / Dwitunggalnya Siwa-Budha ini merupakan Sari Sagara kontek sastra mistik Saktinya Siwa-Budha yaitu Kara Dia adalah Maha Suka dalam kedalaman Saktinya Budha Wajra adalah tanda kaitanya dengan Tantra dan Bairawa.
Siwa-Budha dengan Sifat Ardani menjadi Adi Budha ini adalah Wajra Dara pembawa Lingga Budhis gelar Sri Wajra Yogini, Yoga Tantrayana atau Bairawa Paksa Satamayanikam menjelaskan sunya para mangada kedudukan dari Adi Budha gelar Sang pamegat dang arcaya adalah Wisnu-Budha dibeberapa daerah bergelar Bujangga.
Dalam hal Spiritual Kerajaan Dharma / Siwa-Budha adalah kerajaan Purehita atau Orang Suci yang menjadi atasan Raja Kerajaan ini merupakan tata nilai Weda atau bicara moral, Raja bertanggung jawab pada Para Pandita dan para penyembah Tuhan yang murni agar semua sama-sama suci dihadapan Tuhan.
Penahbisan / Penabalan Raja dengan cara diksa widhi, para pandita duduk melingkar dengan istilah Gana Cakra atau Jiwa Mukta letak Penahbisan berada di kruredesa dalam tantra disebut Jiwa Mukta bertemu tantrisme Cakra / Srijenna Bajra / Reaksara pure biseka pentahbisan sama dengan diksa Widhi duduk melingkar ada asapan mereka memebuat mandala baru, dalam Upakara Kerajaan, dibentuk Dewan Dharmadiyaksa Kumpulan para Pandita yang diangkat sebagai penasehat Raja, Kepala Dewan Diyaksa Kepalanya diangkat menjadi Purahita penasehat Raja.
Berdasarkan Candra Sengkala berdirinya Kerajaan Segara dari Kerajaan Bakulapura Beralih ke Kerajaan Segara berdasarkan kata-kata Tuah Emba Arai / Paksi Alapa Patha yaitu Paksi = 7 Alapa = 9 Patha = 2 kemudian Angka ini kita balik diketemukan bahwa 297 Saka atau 375 Masehi.
PERTAPAN ATAU PANDITA, MERUPAKAN SEBUAH JABATAN DALAM PELAKSANAAN UPAKARA YADNYA
1. Wiku adalah Pandita tinggal digunung dan membangun pertapan disana.
2. Pandita adalah Pertapa yang tinggal dikeraton.
3. Resi adalah pandita yang masih mampu untuk berperang jika diperlukan bantuan.
4. Hajar adalah adalah Pandita yang mengajar kepandaian.
5. Dwija adalah Pandita yang mengajarkan ilmu lahirlah dan batinlah, Dwija ini mengacu pada gelar kehormatan.
6. Dwijawara adalah Pandita yang mengajar ilmu kasidan / kesempurnaan, tidak memilih murid, siapapun boleh berguru padanya.
7. Yogi adalah yang menuntun menuju kearah kebahagiaan.
8. Muni adalah Pandita yang tugasnya memberi nasehat.
9. Suyati adalah yang mengajarkan tentang panembahan.
10. Begawan adalah Pandita yang dahulunya merupakan seorang raja sudah turun tahta.
11. Wipra adalah Pandita sekaligus pujangga, Ia menuliskan ajarannya agar bisa bisa dibaca banyak orang
12. Dangyang adalah Pandita yang memiliki keahlian meramal, sebutan Dangyang juga merujuk gelar kehormatan.
13. Brahmana adalah Pandita yang berasal dari tanah seberang laut.
14. Widayaka adalah pandita keramat, apa yang dikatakan sering kali menjadi kenyataan sehingga ia ditakuti banyak orang.
15. Dayaka adalah Pandita yang sakti.
16. Wasista adalah Pandita yang awas dan waspada
17. Brahmacari adalah Pandita yang tidak pernah menyentuh wanita dan tidak menikah atau wadad.
Komentar
Posting Komentar