PENGANTAR Disusun Oleh : DR. (H.C) S.B.R.N. Arie Danu Saputra, Ph. D

DAFTAR ISI

1.               Pengantar

 

2.               Kutai Sebenarnya Bukanlah Nama Suku.

 

3.               Sejarah Suku Kutai Dalam Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur.

 

4.               Kerajaan Sagara Adalah Kerajaan Hindu Tertua  Di Nusantara Yang Didirikan Pada Tahun 350 M Terletak Di Bakulapura (Muara Kaman) Dan Pada Tahun 1635 M Di Kuasai Oleh Voc Sampai Pemerintahan Hindia Timur Belanda Dan Ingris Raya, Jepang, Indonesia.

 

5.               Pembuktian Keruntuhan Kerajaan Sagara Di Muara Kaman Bukan Karena Aneksasi Dari Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martapura Melainkan Di Kuasai Oleh Voc Di Tahun 1635 Dengan Penyerangan 7 Buah Kapal Perang Dengan Senjata Meriam Di Pimpin Oleh Kapten Gerit Thomassen Pool.

 

6.               Penulisan Sejarah Tentang Kutai Patut Di Teliti Kembali Secara Mendalam.

 

7.               Mengenal Puak Pantun Sebagai Suku Kutai Yang Mendirikan Kerajaan Sagara Negara Tertua Di Nusantara.

 

 

8.               Puak Punang (Kutai Kedang) Pendiri Kerajaan Paha (Sribangun) Di Kota Bangun.

 

9.               Puak Tulur Pendiri Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Di Melak.

 

10.         Puak Pahu Kutai Haloq.

 

11.         Puak Melanti (Melayu Kutai/Kutai Tenggarong) Pendiri Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martapura.

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

PENGANTAR

Suku kutai baru di kenal di era kemerdekaan Indonesia, sebelumnya kutai merupakan wilayah didalam pemerintahan Negara Kerajaan Segara di Muara Kaman.

Suku Kutai Adalah Suku Asli Yang Mendiami Wilayah Kalimantan Timur sekarang dan merupakan suku terbesar di Kalimantan Timur.

Suku Kutai Berdasarkan Jenisnya Adalah Termasuk Suku Melayu Tua Sebagaimana Suku-Suku Dayak Di Kalimantan Timur.

Diperkirakan Suku Kutai Masih Serumpun Dengan Suku Dayak, Khususnya Dayak Rumpun Ot-Danum.

Oleh Karena Itu Secara Fisik Suku Kutai Mirip Dengan Suku Dayak Rumpun Ot-Danum.

Dan Adat-Istiadat Lama Suku Kutai Banyak Kesamaan Dengan Adat-Istiadat Suku Dayak Rumpun Ot-Danum (Khususnya Tunjung-Benuaq) Misalnya; Cerau dan Erau (Upacara Adat Yang Paling Meriah), Belian (Upacara Tarian Penyembuhan Penyakit), Memang, Dan Mantra-Mantra Serta Ilmu Gaib Seperti; Parang Maya, Panah Terong, Polong, Racun Gangsa, Perakut, Peloros, Dan Lain-Lain. Dimana Adat-Adat Tersebut Dimiliki Oleh Suku Kutai Dan Suku Dayak.

 

Saat Ini Bahasa Kutai Terbagi Ke Dalam 3 Dialek: 1. Kutai Tenggarong (Vkt). Contoh: Endik, Artinya Tidak,  2. Kutai Kota Bangun (Mqg). Contoh: Inde / Nade, Artinya Tidak, 3. Kutai Muara Ancalong (Vkt). Contoh: Hik, Artinya Tidak (Sebenarnya Ada Diaelek Bahasa Kutai Lainnya Seperti Dealek Kutai Pantun, Sengatta, Guntung Dll.

Yang Belum Diteliti Oleh Peneliti), Contoh Beberapa Persamaan Bahasa Kutai Dengan Dayak:

• Nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); Nadai (Bahasa Dayak Iban / Kantu’), Artinya Tidak.

• Celap (Bahasa Kutai Tenggarong, Bahasa Dayak Iban, Bahasa Dayak Tunjung); Jelap (Bahasa Dayak Benuaq), Artinya Dingin.

• Balu (Bahasa Kutai Tenggarong); Balu (Bahasa Dayak Iban); Balu’ (Bahasa Dayak Benuaq), Artinya Janda.

• Hek (Bahasa Kutai ), He’ (Bahasa Dayak Tunjung), Artinya Tidak.

• Manok (Bahasa Kutai), Manok (Bahasa Dayak) Artinya Ayam.

• Alak (Bahasa Kutai), Alaq (Bahasa Dayak Kenyah) Artinya Ambil.

• Telek (Bahasa Kutai Kota Bangun), Telek (Bahasa Dayak) Artinya Lihat.

• Kenohan (Bahasa Kutai), Kenohan (Bahasa Dayak Tunjung Dan Benuaq) Artinya Danau.

• Langat (Bahasa Kutai), Langat (Bahasa Dayak Tunjung) Artinya Panas Terik.

• Merang (Bahasa Kutai), Perang (Bahasa Dayak Tunjung) Artinya Panas.

• Mek (Bahasa Kutai ), Mek (Bahasa Tunjung) Artinya Ibu.

• Ye (Bahasa Kutai Kota Bangun), Ye (Bahasa Dayak Tunjung) Artinya “Yang”

• Jabau (Bahasa Kutai), Jabau (Bahasa Dayak Tunjung) Artinya Singkong.

Mengenai Nama Kutai, Ada Pendapat Bahwa Itu Memang Bukan Menunjuk Nama Etnis Seperti Yang Menjadi Identitas Sekarang.

Istilah Kutai Erat Pula Dengan Istilah Tunjung Kutaq Dalam Bahasa Benuaq. Di Pedalaman Mahakam Terdapat Nama Pemukiman (Kota Kecamatan) Bernama Kota Bangun Sekarang Didiami Etnis Kutai.

Menurut Catatan Penjajah Belanda Dulu Daerah Ini Didiami Orang-Orang Yang Memelihara Babi, Dan Mempunyai Rumah Bertiang Tinggi. Menurut Orang Tunjung Benuaq, Istilah Kota Bangun Yang Benar Adalah Kutaq Bangun.

Demikian Pula Di Sekitar Situs Sendawar Ada Daerah Yang Namanya Raraq Kutaq (Di Kec. Barong Tongkok, Kota Sendawar Ibukota Kutai Barat).

Nama Tenggarong (Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara) Menurut Bahasa Dayak Orang Benuaq Adalah Tengkarukng Berasal Dari Kata Tengkaq Dan Karukng, Tengkaq Berarti Naik Atau Menjejakkan Kaki Ke Tempat Yang Lebih Tinggi (Seperti Meniti Anak Tangga), Bengkarukng Adalah Sejenis Tanaman Akar-Akaran.

Menurut Orang Benuaq Ketika Sekolompok Orang Benuaq (Mungkin Keturunan Ningkah Olo) Menyusuri Sungai Mahakam Menuju Pedalaman Mereka Singgah Di Suatu Tempat Dipinggir Tepian Mahakam, Dengan Menaiki Tebing Sungai Mahakam Melalui Akar Bengkarukng, Itulah Sebabnya Disebut Tengkarukng, Lama-Kelamaan Penyebutan Tersebut Berubah Menjadi Tenggarong Sesuai Aksen Melayu.

Walapun Selama Ini Nama Tenggarong Sangat Diyakini Diberikan Namaya Oleh Orang Bugis Yang Berasal Dari Tangga Arung Dari Asal Nama Daerah Ini Disebut Tepian Pandan Tempat Berdiamya Penduduk Kutai Kedang Lampong (Asal Nama Sungai Tenggarong Adalah Sungai Lempong).

Keturunan Raja-Raja Dari Muara Kaman di Pimpin Sri Mangku Jagat Yang Menguasai Sungai Lempong Dan Sri Mangku Setia Menguasai Sungai Landap Kampungnya Bernama Gersik, Yang Sekarang Daerah Sri Mangku Jagat Tinggal Itu Disebut Mangkuraja.

Antara Landap Tepian Pandan Ada Sebuah Pulau  Yang Awalnya Disebut Pulau Penyela Dan Sekarang Ada Yang Menyebutnya Pulau Tenggarong Tapi Sekarang Namanya Pulau Kumala, Demikian Dapat Kita Simpulkan Dan Pahami Masing-Masing Untuk Menjadi Pengetahuan.

Kata kutai berasal dari kata belantara yakni (quwitaire) sesuai catatan dalam buku Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia kata quwitaire merujuk pada nama wilayah kerajaan yang ada di Muara Kaman.

 

Di samping itu ada pula yang menyatakan bahwa nama Kutai itu berasal dari bahasa Cina kho-thay. Kho Artinya Kerajaan, dan thay artinya besar.

 

Jadi "kerajaan yang besar". Ucapan ini lama kelamaan menjadi Kutai, hal ini merujuk pada masa terjadinya peperangan antara kerajaan di muara Kaman dan wangkang jong dari cina yang di kenal dengan perang lipan.

 

Sumber lain yaitu silsilah raja-raja (dalam negeri) Kutai (Kerta-negara), menyebutkan tentang asal-usul nama Kutai sebagai ber-ikut: Setelah sudah maka Aji Batara Agung Dewa Sakti pun ber-kumpullah suami-istri; dengan selamat sempurnanya kira-kira sedang lamanya aji itu dua suami-istri, maka mengidamlah ia hendak baturan lulu sumpitan maka aji itu pun pergilah menyumpit lulu ke kutai.

 

Maka tiada mendapat lulu yang lain hanya tupai saja seekor makan buah petai lalu disumpitnya maka kenalah tupai itu gugur ke tepian mampi (kumpai?).

Maka dikelilinginyalah benua itu maka bunyi aji itu terlalu baik negeri ini baiklah aku pindah ke negeri ini, berbuat negeri di sini.

 

Maka tanah itulah tempat aji itu berdiri menyumpit tupai itu, tanah itulah yang bernama tanah Kutai, karena tanah itu tinggi sendirinya, maka aji itupun pindahlah menurut Silsilah Raja-raja (dalam negeri) Kutai (Kertanegara) yang dimuat oleh C. Hooy. kaas, Penyedar Sastra, J.B. Wolters - Groningen, Jakarta, 1952, halaman 214. Cf. C.A Mees. loc. cit, halaman 165 - 166.

 

Kerajaan Sagara di Muara Kaman tidak pernah Takluk kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Nama kerajaan di Muara Kaman bukan Kerajaan Kutai Martapura (Kerajaan Martapura) dan baru pada tahun 2001 Kerajaan di Muara Kaman di Namakan Kerajaan Kutai Mulawarman hal ini untuk di ajukan kepada pemerintah Republik indonesia untuk menjadi lembaga atau perkumpulan yang mewarisi budaya Negara Kerajaan Segara sebagai negara tertua di nusantara.

 

Hal tersebut dilakukan oleh Forum Komunikasi Kerabat Mulawarman dan selaku pelaksana CERAU upacara adat mulawarman atau UAM yang disetujui oleh Bupati Kutai Kartanegara Prof. Dr. H. Syaukani Hasan Rais, S.E. M.M. yang memberikan dana sebesar 260 Juta melalui APBD tahun 2001 kepada Forum Komunikasi Kerabat Mulawarman.

 

Dan kemudian tanggal 3 September 2001 dilaksanakan CERAU upacara adat mulawarman untuk meresmikan Lembaga Adat Besar Kecamatan Muara Kaman dan Kerajaan Kutai Mulawarman sebagai pewaris Kerajaan Sagara di Muara Kaman dan melaksanakan kegiatan seni budaya dan memiliki hukum adat yang disyahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Warisan Negara Kerajaan Sagara di Muara Kaman sejak tanggal 3 September 2001 resmi dirubah namaya menjadi Kerajaan Kutai Mulawarman di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai tempat pelestarian, pengembangan, pemeliharaan dan perlindungan adat dan seni budaya serta memiliki ketetapan hukum adat sebagai undang-undang dalam melestarikan budaya Negara kerajaan tertua di nusantara.

 

Didalam buku ini menjelaskan kutai adalah wilayah dan bukan nama suku, dan wilayah ini dulunya adalah wilayah yang dikuasai oleh Raja Segara di Muara Kaman sesuai isi prasasti yupo sejak abad ke 4 Masehi sehingga tahun 1635 Masehi sejak kedatangan VOC yang menanamkan kekuasaanya yang kemudian di serahkan kepada Hindia Timur Belanda dan kemudian di serahkan kepada Ingris Raya dan kembali lagi ke Hindia Timur Belanda sampai tahun 1942 di jajah oleh Jepang sampai tahun 1945 di Kuasai oleh NICA dan baru tahun 1949 di serahkan kepada Indonesia.

 

Disusun Oleh :

DR. (H.C) S.B.R.N. Arie Danu Saputra, Ph. D

Penerima Penghargaan DHC dari Institute Edocando Para a Paz di Brasil

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUKTIAN KERUNTUHAN KERAJAAN SAGARA DI MUARA KAMAN BUKAN KARENA ANEKSASI DARI KESULTANAN KUTAI KERTANEGARA ING MARTAPURA MELAINKAN DI KUASAI OLEH VOC DI TAHUN 1635 DENGAN PENYERANGAN 7 BUAH KAPAL PERANG DENGAN SENJATA MERIAM DI PIMPIN OLEH KAPTEN GERIT THOMASSEN POOL

SEJARAH SUKU KUTAI DALAM PEMERINTAHAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

TENTANG DINASTY WANGSAWARMAN WARMANDEWA