PUAK PUNANG (KUTAI KEDANG) PENDIRI KERAJAAN PAHA (SRIBANGUN) DI KOTA BANGUN

PUAK PUNANG (KUTAI KEDANG) PENDIRI KERAJAAN PAHA (SRIBANGUN) DI KOTA BANGUN

 


Dalam pemerintahan Kerajaan Sagara di Muara Kaman dari tahun, 350-1635 M, Kota Bangun diketahui bahwa wilayahnya bernama Negeri Paha meliputi daerah : Keham, Kedang Dalam, Kedang Ipil, Lebak Mantan, Lebak Cilong.

 

Negeri ini setingkat Adipati, suku ini disebut Puak Kedang atau Suku Kutai Kedang (Orang Adat Lawas) adapun pimpinannya berigelar Sri Raja (Raja Kecil) dan Sri Raja terakhir bernama Sri Raja Talikat merupakan kerabat Raja di Muara Kaman, dan memerintah di ibukota Keham sampai sekarang masyarakat Adat Lawas masih mendiami daerah tersebut diatas.

Kota Bangun merupakan satu permukiman tertua di Kabupaten Kutai Kertanegara, selain itu juga hadir kawasan Kutai (Kutai Lama), nama kedua kawasan ini sudah hadir dinamakan di dalam Hikayat Banjar yang bagian terakhirnya ditulis pada tahun 1663.

Kota Bangun merupakan asal kawasan Raden Aria Dikara ayah Gusti Barap, isteri Panembahan di Darat (mangkubumi dari Sultan Inayatullah).

 

Dalam pemerintahan penguasaan VOC beribukota di Kutai Lama/Jembayan dan Tenggarong, dari tahun 1605-1900 setatus Kota Bangun mengalami perubahan bahwa wilayahnya disebut wilayah Kesutaan dan Ibukotanya berada di Muara Sungai Kedang Murung disebut Telok Gelumbang, dan batas kampong pada waktu itu sampai ke Tanah Pindah adapun Suta pertamanya bernama Suta Sri Bangun adalah kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara dan seterusnya bahwa suta yang terakhir bernama Rongge gelar Suta Kanan, wilayahnya meliputi Pela, Kedang Dalam, Kenohan, Lebak Mantan, Kedang Ipil, Lebak Cilong, Liang, Keham, Sebemban, Kuyung, Enggelam, Ma-Uwis.

 

Asal usul penduduk Suku Kutai Kedang yang mendiami wilayah Kota Bangun dan sekitarnya berasal dari rupun Ras Duentro Malay, yaitu percampuran suku Kutai Pantun dan dayak Benuaq-tonyooi (Benuaq-Tunjung) di Keham asal dari Sungai Ohong, yang menjadikan logat bahasa Suku Kutai Kedang mengalunkan Nada yang bergelombang.

 

Misalya bahasa Indonesia “Tidak”, Bahasa Kutai “Endik”, Bahasa Kutai Kedang “Inde” tegas alas gelombang.

 

Dalam tahun 1900-1940, Kota Bangun menjadi Wilayah Districe Hoofd dalam Jaman Penjajahan Belanda, Ibukotanya Bernama Kota Bangun pimpinannya diberi Jabatan Kepala Districe, pertamanya bernma Aji Pangeran Bendahara (1900-1903) dan Kepala Disterice terakhir bernama Aji Bambang Daut tercatat sebanyak 18 orang yang sempat menjabat kepala districe di Kota Bangun.

 

Sedangkan dari tahun 1940-1946 wilayah Disterice Hoofd Kota Bangun dijadikan Wilayah Guncho oleh pemerintahan Penjajah Jepang dan Guncho pertaman dijabat oleh Aji Bambang Sjaifoeddin Gelar Aji Raden Tirto Wijoyo (1940-1945) dan digantikan oleh Guncho terakhir bernama Aji Raden Aploes gelar Aji Pangeran Aploes (1945-1946, 

 

Pada Tahun 1946-1951, Kota Bangun menjadi Wilayah Penjawat dalam pemerintahan Sawabraja Kaltim dan sebanyak 6 orang yang pernah menjabat Kepala Penjawat di Kota Bangun dan yang pertaman bernama Baharoeddin gelar Mas Jaya Poerwonoto (1946) dan Pds. Kepala Penjawat terakhir bernama Mohammad Seman gelar Mas Jaya Muda (1948-1951).

 

Masa pemerintahan Daerah Istimewa Kutai dan Peralihan Propinsi Kaltim dan Kabupaten Daerah Tingkat II Kutai, Kota Bangun menjadi wilayah Kewedanaan dan sebayak 9 orang yang pernah menjabat Assisten Wedana dari tahun 1952-1966, dan Asisten Wedana pertama bernama Mohammad Syarif gelar Mas Noto Djaya Moeda (1952-1955) dan yang terakhir dijabat oleh Mukidjat dari tahun 1965-1966. pada masa itu Kenohon menjadi Kecamatan terpisah dari Kota Bangun.

 

Dan Kota Bangun pun menjadi Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kutai sampai dari tahun 1967 dan sekarang 2008 dalam pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara Camat pertamanya Aji Bambang Hassan Basrie (1967-1968) dan sekarang dari 2006- oleh M.Syamsie Juhri,S.Sos.MM. dari tahun 1900 sampai 2008 sebayak 50 orang yang pernah memimpin Kota Bangun. Dan wilayahnya sudah meliputi 20 Desa. Bagaimanapun salah satu catatan kongkrit mengenai pemerintahan di Kota Bangun tertuang dalam sebuah surat dari Resident Der Zuiderent Dester Afdelingen Van Borneo No. 506/C-34-2 tanggal, 11 Maret 1924.

sekarang Kota Bangun menjadi Ibukota Kecamatan yang memiliki, Luas wilayah 1.143,74 Km2 dan terdiri dari 20 Desa. Sebenarnya usia Kota Bangun 108 Tahun maka untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu, sdra Jemai berinisiatif agar seni budaya di kota bangun jangan sampai hilang, melalui Organizer Multi Pemuda Kutai melaksanakan kegiatan Seni Budaya ini setiap tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUAK TULUR PENDIRI KERAJAAN KARANG SARI PINANG SENTAWAR DI MELAK

Puak Tulur adalah suku yang mendiami wilayah Sendawar (Kutai Barat), suku ini mendirikan Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar di Kutai Barat dengan Rajanya yang terkenal dengan nama Aji Tulur Jejangkat.

Puncan Karna anak bungsu Aji Tulur Jejangkat menikah dengan Aji Ratu adik dari Maharaja Sultan.

Suku ini mendiami daerah pedalaman, mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung dan Benuaq (Ohong dan Bentian).

  • Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan Melak, Barong Tongkok dan Muara Pahu.
  • Suku Benuaq mendiami daerah kecamatan Jempang, Muara Lawa, Damai dan Muara Pahu.
  • Suku Bentian mendiami daerah kecamatan Bentian Besar dan Muara Lawa.

Suku Dayak Bahau merupakan suku Dayak pendatang di Kutai, selain itu terdapat pula suku-suku Dayak pendatang lain di Tanah Kutai yaitu suku Dayak Kenyah, Punan, Basap, dan Kayan.

  • Suku Kenyah dan Suku Kayan merupakan pendatang dari Apo Kayan, Kab. Bulungan. Kini suku ini mendiami wilayah kecamatan Muara Ancalong, Muara Wahau, Tabang, Long Bagun, Long Pahangai, Long Iram dan Samarinda Ilir.
  • Suku Punan merupakan suku Dayak yang mendiami hutan belantara di seluruh Kalimantan Timur mulai dari daerah Bulungan, Berau hingga Kutai. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di gua-gua batu dan pohon-pohon. Mereka dibina oleh Departemen Sosial melalui Proyek Pemasyarakatan Suku Terasing.
  • Suku Basap menurut cerita merupakan keturunan orang-orang Cina yang kawin dengan suku Punan. Mereka mendiami wilayah kecamatan Sangkulirang.

Suku Kutai Puak Pahu, para lelakinya masih memakai cawat dan suku Bakumpai berasal dari sungai Barito, Kalimantan Tengah, secara rumpun bahasa, suku ini merupakan sub etnis Dayak Ngaju (Biaju) yang beragama Islam, sedangkan secara rumpun budaya, suku ini tergolong berbudaya Banjar, sehingga sering juga disebut Dayak Banjar atau Banjar Bakumpai.

 

Posisi suku Bakumpai ini secara bahasa dan budaya berada di tengah-tengah menjembatani antara budaya Dayak Ngaju dan budaya Banjar (posisinya mirip suku Kutai puak Pahu), mereka mendiami daerah kecamatan Long Iram.

 

Ada Suatu Kejadian Diabad ke-13 Terjadi peristiwa Kedatangan Utusan Raja Majapahit dari Keturunan Raja Di Kerajaan Singasari (Jawa Timur) yang di pimpin oleh Seorang bernama Raden Koesoema dan mulai melakukan blokade Muara Sungai Mahakam.

 

Menguasai daerah bernama Tanjung Riwana atau Kutai Lama sekarang Mereka mengadakan penyerangan terhadap para Petingi-Petinggi dan telah menguasai Wilayah Petinggi Hulu Dusun serta membelokade Kapal-Kapal Naga Cina yang melakukan perdagangan ke Hulu Mahakam hingga terjadi peperangan dengan Wangkang-Wangkang dan Jong-Jong yang Merupakan Kapal-Kapal Dagang Cina yang berlambang Naga.

 

Sehingga di setiap Upacara Erau Kesultanan Kutai Kertanegara bahwa Naga di Tenggelamkan di Tanjung Riwana (Kutai Lama) Dahulu mereka membangun pangkalan Militer sehingga di beri hak kuasa sebagai Pimpinan Batara (Batara Adalah Raja Utusan Kerajaan Wilwatikta atau Majapahit) maka Raden Koesoema di Anugerahi Gelar Batara Agung Dewa Sakti  Karena Sebagai Keturunan dari Raja Kertanegara di Kerajaan Singhasari.

 

Tersebutlah Seorang Sangkareak Di Sungai Ohong Penguasa Dari Bongan sampai di Tanjung Isui Mancong Bernama Hirong Sorga Tanah Yang Melahirkan Putra Bernama Gah Bongan Beristeri Gah Bongek dan melahirkan 8 orang anak antaranya 1. Igas, 2. Laca, 3. Lani, 4.Inggih, 5. Ijuq, 6.Laman, 7. Dakaq 8. Kebon. dan diantara anaknya yang menjadi Sangkareak adalah  Kebon diberi Gelar Ape Bongan Tanah Diambil Menantu Oleh Maharaja Langka Dewa Yang Berada di Muara Kaman bernama Mahaputri Natadewi Kencana Puri Yang Melahirkan Geregas Pati Oleh Orang Kutai Lama Menyebutnya dengan Nama Aji Tulur di Jejangkat yang diyakini orang tunjung sebagai Keturunan Nayuk Tonyoy, Putra Nayuk Tarukng Bulatw, Anak Nayuk Benturukng Uraq, yang merupakan Keturunan dari Nayuk Gemulur Langit Putra Nayuk Raja Inu yang dilahirkan oleh Nayuk Raja Usetr, dari Nayuk Raja Nentatkng, anak Nayuk Sengkelalik Alatkng, keturunan Nayuk Retkng Gontetkng Putra Nayuk Nulent Nga'Ngangan Anak Putri Nayuk Lesayakw Bulantn (Dewi Bulan) dan merupakan Putra Nayuk Lesayakw Olo (Dewa Matahari).

 

Orang Tunjung dan Benuaq Sangat terkait satu sama lainya hidup berdampingan mereka tidak dipisahkan dalam kesukuan seperti kehidupan sekarang, di sebut Dayak karena mengecilkan dan ingin melupakan bahwa mereka ini adalah bagian orang pendatang. Mereka bukan pendatang dan Mereka adalah penduduk yang sudah ada sejak Kerajaan Tertua Nusantara ini di Bangun sejak Maharaja Sri Kundungga mereka  penduduk yang menjadi orang Intelektual menguasai Sastra dan Mantera dan Hukum2 di wilayah Kerajaan pada saat itu.

 

Nama Sagara dan Vravatam sadiva Malaya tertuang di Prasasty Yupa itulah kerajaan Kutai Kuno ini sebenarnya kerajaan Protomalay (Melayu Tua) Dan Pembuktianya bahwa orang Tunjung dan Benuaq serta Pantun adalah Pribumi dan Mereka inilah yang Menjalankan Kehidupan Sosial Politik dalam Kerajaan di Masa Lalu sebelum datangnya orang Jawa dari Singosari dan Penjajah Belanda yang mengakibatkan terkotak-kotaknya Orang Kerajaan Ditanah Kalimantan Timur.

 

Mengenal Jabatan Kemuduk Bagaikan Anjing Menyalak Karena Kemuduk Adalah Pimpinan  Keamanan baik menjaga Keamanan Kota, Sungai serta Kebon-Kebon serta Tanaman lainya hingga Keamanan Tambang Emas dan tambang lain juga Sebagainya Milik Kerajaan Malaya di Muara Kaman.

 

Mereka ini merupakan Para Pengawal Raja Kudukng yang di bawa dari Dongson takala Merajaq Kudukng (Maharaja Kundungga) masih Pulang Pergi Ke Campa Menjumpai Kakaknya Bernama Maharaja Radjendera Warman atau Bhadravarman I yang menjadi raja di kerajaan Lin Yi yang menerima hasil Tambang Emas dan Bumi serta Alam Naladwipa.

 

Untuk di perdagangkan Para Kemuduk ini memiliki Pengikut-Pengikut dan mereka Rata-Rata Kalangan Kesatria Ahli dalam Perang dan dan menggunakan Senjata karena sesuai tugasnya sebagai Penjunjung Setia dan mengabdi pada Negara mereka diberi julukan orang Tunjung karena itulah mereka ini memiliki strata Bangsawa setingkat Raja.

 

Para Kemuduk ini diyakini adalah Turunan Jakar putra toar yang punya ibu bernama Puko Putri dari Gabu yang lahir dari Tobekng anak Putri Tae atau Toe anak dari Kece alias Kuce.

 

  Keturunan Hake Putra dari Hanok yang merupakan anak Narik ibunya bernama Sia anak Putri Punekn dari Taman Rikukng Merajaq Potetk Konakt Merajaq Tonyoy.

 

Karena itulah Orang Tunjung Hampir Tidak Memiliki Budaya Tata Cara Upacara Adat yang Menonjol di karenakan mereka lebih banyak mendapat batuan urusan Ritus dari Orang Benuaq yang dipimpin Sangkareak sebagai Pimpinan tertingi dalam Tugasnya di Kerajaan di Martapura (Kutai Kuno).

 

Disebuah Daerah bernama Larak Kota di Ratau Batu Gonali dipimpin oleh seorang Kemuduk bernama Suma Melahirkan Anak Antaranya Bengko, Kandang, Murunq, Jumai, Jongge, Madar, Dan Bulan, Beran. Putra Kemuduk Suma bernama Bengko Menjadi Kemuduk Dengan Gelar Naga Salik Memperisteri Mahadewi Randaya Bunga Yang Adalah Putri Dari Maharaja Guna Perana Tungga dari Muara Kaman Melahirkan Muk Bandar Bulan.

 

Atas Persetujuan Maharaja Turunan Mulawarman Bernama Sri Langka Dewa Memerintah dari Tahun 1214-1265M, Pada saat itu maka Geregas Pati yang Kawin dengan Muk Bandar Bulan di Berikan hak Membangun sebuah Kerajaan Untuk Menyatukan Para Sangkariak dan Kemuduk, yang mana nantinya untuk menjadi tempat pertahanan di hulu Mahakam jika serangan dari tanah Jawa semakin besar, dan Kerajaan baru itu di beri nama Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar di Perintah Geregas Pati.

 

Permaisurinya Adalah Muk Bandar Bulan Bergelar Mahaputri Ringsa Bunga dan melahirkan anak bernama Sulas Guna, Nara Guna, Jeleban Bena, Puncan Karna.

 

Sebelum Masa Sulas Guna Menjadi Raja di Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar dibantu adiknya bernama Nara Guna.

 

Maka adiknya Puncan Karna di minta menjadi utusan damai karena itulah Puncan Karna memperisteri Anak Aji Batara Agung Paduka Nira (Pimpinan Batara Kertanegara dari Singhasari di Tanjung Riwana) Kutai Lama Atas Sumpah Puncan Karna Anak Keturunanya Tidak Boleh Menyerang Kerajaan Di Muara Kaman dan Ulu Mahakan Hingga Sampai Kedatangan Orang Belanda Melakukan Serangan Di Abad Ke 17 Yaitu Tahun 1635.

 

Kejadian Ini Terkait Dengan Perjanjian Sultan Intan Dari Banjar dan Berlanjut Dengan Perjanjian Bongaya di Sulawesi Dan Juga Pengaruh Perjanjian Antara Pangeran Kutai Kartanegara Saat Belanda Datang Dengan 2 Buah Kapalnya Pemburu Dan 5 Kapal Lainya Ke Sungai Mahakam Yang Dipimpin Kapten Thomas dan Kapten Van Hays.

 

Kembali Ke Masa Pemerintahan Raja Sulas Guna Orang Tunjung Dan Benuaq masih Disatukan dibawah Panji Karang Sari Kerajaan Pinang Sentawar, dan Berjalan baik diteruskan oleh Selutantn Gantukng Langit Menjadi Raja ke 3.

 

Kemudian Ima Giriq Gelar Selutantn Inaar Giriq Menjadi Raja ke 4, Melahirkan anak bernama Selutantn Pejapm Menjadi Raja ke 5, Dan Terutn, anak Selutantn Pejapm Bernama Soreq Lebiq Menjadi Raja ke 6, Hajiq Mahing Menjadi Raja ke 7, digantikan anaknya bernama Entokt Gelar Merajaq Tonyooi Menjadi Raja ke 8 Melahirkan Hajiq Mahing Menjadi Raja ke 9, melahirkan anak dua orang Tiukng belaki Rendi dan Tingakng Bebini Tukaw Menjadi Raja 10 Melahirkan Angin Menjadi Raja Perempuan ke 11 Belaki Ketikng Melahirkan Men Uyakng Belaki Geruqkng Raja ke 12 tidak Melahirkan Anak, Men Uyakng Belaki Radentn Tusuk (adalah Anak Lingay Gelar Raden Selikatn Putra dari Ririh Gelar Radent Baroh Putra dari Pateh Pogar Anak Tengkaktn Marenek Anak Bantikng Mangkubakng dari Keturunan Tingkung Meluluy Putra dari Raja Sulas Guna).

 

Dimasa Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Diperintah seorang Raja Wanita Bernama Men Uyakng Belaki Geruqkng Raja ke 12 Gelar Raja Manik.

 

Sejak itu Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar ini sering di Ganggu oleh Pasukan Batara Kutai Kartanegara Pada abad ke-15 Masehi.

 

Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar terpaksa membuat perjanjian damai dari penguasa Kutai Lama, Alasanya keempat orang yang ahli bertempur itu tidak akan pulang ke tanah Sentawar. Isi dari perjanjian itu sebagai berikut;  1. Pihak Batara Kutai Kertanegara mengembalikan daerah taklukkanya tanah Sentawar, kepada orang Tunjung. 2. Batara Kutai Kertanegara tidak akan lagi menyerang tanah Sentawar.

 

Hal inilah Akhirnya menjadi Petaka berkepanjangan Bagi Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar, Alasan Karena tidak mau yang dianggap fihak melanggar perjanjian serta tidak mau mengambil resiko yang besar, maka Batara Kutai Kertanegara mengangkat Orang Tunjung sebagai perwakilanya.

 

Mereka ini mempunyai tugas-tugas sebagai berikut; 1. Mengkoordinir dan mengumpulkan upeti ( Kembang tahun ) lalu diserahkan dan dibawa kepada Kutai Kertanegara setiap tahunnya. 2. Menggerakkan rakyat agar bekerja paksa di istana Kutai Kertanegara dan sekitarnya setiap tahunnya. 3. Gunung Pedidik di Kota Tenggarong adalah sisa bekas peninggalan kegiatan itu.

 

Atas jasa dan pengabdian terhadap Kutai Kertanegara itu, maka penguasa Kutai Kartanegara menganugerahkan gelar kehormatan mereka. Nama gelar-gelar itu adalah; 1. Temenggung. 2. Radentn. 3. Mangku. 4. Singa Mas / Macan. 5. Karti dll.

 

Pada  Tahun 1635 M Kerajaan Muara Kaman  di Serang Kapal VOC Belanda Dari Muara Mahakam maka terjadi Tekanan pada saat itu dibawah kekuasaan VOC Belanda terhadap Orang Tunjung dan Benuaq yang membuat larangan tentang kebiasaan (adat) mereka mengayau (memotong kepala), lalu orang Tunjung ini berpindah dan menyebar kepedalaman atau tempat yang berjauhan satu sama lainnya.

 

Akibat penyebaran itu terjadilah perbedaan logat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapi tidak begitu mendasar. Akibat penyebaran ini sehingga terjadi berbagai macam jenis yaitu Orang Tunjung :

 

1. Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, Baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya.

 

2. Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru dan Lama).

 

3. Tunjung Bahau, Mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya.

 

4.  Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya.

 

5. Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya.

 

6. Tunjung Linggang, mendiami didaerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, Lakan Bilem, Into Lingau, Muara Batuq dan wilayah sekitarnya.

 

7. Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kembang janggut, Kelekat, dan Pulau Pinang.

 

Setelah Raja Men Uyakng  Memerintah Kerajaan Karang Sari Pinang Sendawar Maka terjadi Perubahan dan Raja Men Uyakng Belaki Radentn Tusuk melahirkan dua orang anak bernama Terutn  Gelar Radetn Gelumakng Menjadi Pengganti Raja Men Uyakng dan Medetn gelar Radetn Nyerakat tidak Memerintah akan tetapi  Anaknya bernama Jangkat gelar Empok Tang Memerintah Yang Melahirkan Giri yang berputra Radetn Enpok Dehang Memerintah.

 

Sedangkan  Anca adik Empok Tang gelar Empok Badas tidak Memerintah melahirkan Keturunan Bakng Empok Turaky melahirkan Jeliban Empok Tulis berputra Jangkat Taman Galoh yang Melahirkan Paran beranak Ujukng yang Berputra Lahakt dan Lomos gelar Mas Puncan Memerintah.

Silsilah Terutn  Gelar Radetn Gelumakng Menjadi Pengganti Raja Men Uyakng melahirkan tiga orang anak antaranya Ginang Gelar Raetn Tebak memerintah yang belum di ketahui keturunanya sedangkan adiknya Utek gelar Raja Untak tidak di ketahui keturunanya dan yang meneruskan keturunan adalah Riak Adak Memerintah melahirkan Riak Gadang bebini Jengak, Memerintah melahirkan Badas Tambungah memerintah beristeri Epak melahirkan  anak  antaranya Bungay Empok Bonoh memerintah bebini Intan yang merupakan anak Kolak gelar Empok Emaks Memerintah, Intan melahirkan  Emaks Gelar Dayang Bayakn belaki Sultan Kutai Kartanegara sedangkan saudaranya bernama Ajakng gelar Empok Baluy memerintah melahirkan Timakng Gelar Kerta Pati Memerintah di seberang Meraya melahirkan Kerta Tulur.

 

Sedangkan Sinum saudara perempuan dari  Bungay gelar Empok Bonoh memiliki Saudara bernama Sinum yang melahirkan Neki  Belaki Roget gelar Gajah di Bentian Melahirkan Singa Dalek bebini Bekotk melahirkan  anak anataranya  Urang gelar Riak Tegaky memerintah adiknya Lain Ibunya Bernama Kedek melahirkan Pemuhuk gelar Sri Puncan memerintah melahirkan Ngenakng berputra Kamarling, dan seorang perempuan bernama Panaw di peristeri oleh Singa Bontik dari Bentian melahirkan Singa Tuahekw. Adapun Didi” saudara Neki anak Sinum  melahirkan anak bernama Ongkok memerintah melahirkan Biowo beranak Aning melahirkan Amakn.

 

Adapun Dengakn Anak Didi” Melahirkan Ningkah yang berputra Tejutn dan Mempunyai anak bernama Loyatn Memperisteri Dokek melahirkan Kerongok memerintah yang bebini Kidong melahirkan Rensius Kepala Adat. Adapun Silsilah Kidaong adalah Anak Luih gelar Mas Guna Bersaudara dengan Riau Bebini adik Dokek bernama Ruwey Melahirkan Patih yang Berputrakan Sabransyah Kepala Desa (KS) Silsilah Luih adalah Putra Lahant anak Ujukng yang Juga punya anak nama Lomos gelar Mas Perana.

 

Silsilah Ima Giriq Gelar Selutantn Inaar Giriq Menjadi Raja ke 4, Kerajaan Karang Sari Pinang Sentawar Melahirkan anak bernama Selutantn Pejapm Menjadi Raja ke 5, Dan Terutn, yang melahirkan anak dua orang bernama Luih  Yang beranak dua orang Dahi dan Merajak yang Melahirkan Inas. Sedangkan Adik Luih Bernama Lingai Melahirkan Bena beranak Bulatn Berputra Gerukng memiliki dua anak antaranya Tejutn belum diketahui keturunanya sedangkan Kakaknya bernama Anekng Berputra Osakw, Melahirkan Tek berputra Umut berana Kuay melahirkan Mangku Gasikng berputra Kewek Gelar mangku Sari yang melahirkan Lebay gelar Mangku Jaya  beranak dua orang yaitu Jelinap yang Menurunkan Bupati Kubar Pak Thomas dan anak ke dua Merah gelar Mangku Jaya berputra Ngaang Poy di Linggang Malampeh serta Y. Dullah gelar Mangku Jaya di Linggang Bigung.

 

Suku Dayak Tunjung ini Bertujas Untuk Memperbaiki dunia yang sudah rusak Artinya Menjaga Alam Yang Sebutan “Jaruk'ng Tempuq”.

Jaruk'ng adalah nama dewa yang menjadi manusia dan Nempuuq atau Tempuuq berarti terbang. Nama suku Dayak Tunjung ini menurut mereka adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas Malikng Panguruu Ulak Alas yang artinya Suku Tunjung adalah paahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung. susunan pelapisan social masyarakat tunjung pada zaman dulu adalah :

 

Hajiiq (Golongan Bangsawan), mereka terdiri dari raja beserta keturunannya, pemengkawaaq (pengawal raja) dan mantik tatau (bawahan pemengkawaaq yang berhubungan langsung dengan rakyat) dengan semua keturunanya.

 

Merentikaq merentawi disingkat merentikaq (golongan merdeka atau golongan biasa) mereka tidak termasuk golongan hajiq ataugolongan hamba sahaya.

 

Golongan merentikaaq ini mempunyai hak untuk menarikan Tarian Calant caruuq, karena mereka keturunan asli dari Sengkereaq.

 

Ripat (hamba sahaya), golongan ini mengabdikan diri pada Golongsn hajiiq.

 

Tokoh-tokoh Suku Dayak Tunjung Dr. Yurnalis Ngayoh, mantan Gubernur Kalimantan Timur. Ismael Thomas, mantan Bupati Kabupaten Kutai Barat 2006 - 2011, 2011 - 2016. Y. Dullah. Ketua Presidium Dewan Adat, Kutai Barat. Drs Thomas Edison M.Si., Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI Jakarta. Prof. Dr. Louren Edison, Dosen Pasca Sarjana UNAIR Surabaya. Kolonel Yohanes Ubad, Mantan Mawil hansip Bankalan Madura (almarhum). Dr. Elyas Malat, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pelita harapan Jakarta. Samsudin, Saudagar/Pengusaha di Jakarta (almarhum). Yahya Ibung, SH., tokoh Dayak Tunjung di Balikpapan. Drs.Melki Kamuntik, MA., Kepala Bimas Kriten Protestan Kaltim. Dr. Samson, Dosen Unmul Samarinda. Dr.Theresia Malat, Dosen Unmul Samarinda. Dr. Adrianus Inu Natalisanto, Dosen Unmul Samarinda dan salah satu pemenang Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional 2016.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUAK PAHU KUTAI HALOQ

Puak Pahu adalah suku yang mendiami wilayah Sungai Kedang Pahu.

Suku ini tersebar di Kecamatan Muara Pahu dan sekitarnya. Puak ini merupakan keturunan Dayak Benuaq "behaloq" menjadi "haloq" meninggalkan "Adat Lawas  Kaharingan" menjadi "Pahuuq" (Bahasa Dayak Benuaq  Muslim (menganut Agama Islam).

Uraian silsilah waris tanah adat Tanjung Londong Kecamatan Muara Pahu, catatan dari sampan Mohd. Zainuddin glr. Arsapati di buat di Samarinda pada tanggal, 30 Maret 1984 diserahkan kepada Maharaja Kutai Mulawarman.

 

Surat Kesaksian Salik Taman Luluk Ditandatangani Oleh Kepala Adat Muara Jawaq Selang Ayong dan Kepala Desa Muara Jawaq Andonius Sancen B yang membenarkan bahwa Kepala Adat Dahulunya ada di Desa Abit bernama Bilong glr Arsa Towa yang di gantikan Arsa Tala digantikan Arsa Tataq digantikan Arsa Muda yang menurunkan Kepala Adat ke 21  bernama Sampan Mohd. Zaiuddin glr Arsa Pati meninggal Tahun 1989.

 

Yang meninggalkan catatan diatas segel di perkuat Surat Pernyataan Hasri Kepala Desa Rambayan Muara Pahu Tertanggal 4 Januari 1993 Diketahui oleh Camat Muara Pahu Drs. Muhammad Imron NIP 010 084 005 dan 3 orang saksi antaranya Kepala Adat, Ketua Rt dan Jelani Masyarakat.

Soerga Tanah yang Kawin dengan Perempuan  Bernama Poenon Adalah Penguasa Londong Yang digantikan masing-masing : 1. Awang Ringang, 2. Awang Nipo Bongeq, 3. Awang Jongkang, 4. Awang Soewangkang, 5. Awang Nandaroe, 6. Awang Soewangon, 7. Patih Toengkoediradja, 8. Ramin Tali Benooa, 9. Udang glr Pangatowa, 10. Rapi Gogot, 11. Giling, 12. Dana Lahoeng, 13. Roeda glr Arsa Singa, 14. Tempahit glr Banteng Kidjang Di Alas, 15. Riong, 16. Nyandai glr Arsa Mentiuq, 17. Tala' glr Arsa Tala, 18. Bilang glr Arsa Towa, 19. Nyaran glr Arsa Muda di Selais, 20. Sampan S.M. Zainudin glr Arsa Pati

 

Sampan S.M. Zainudin glr Arsa Pati lahir tahun 1910M yang memiliki saudara 6 orang antaranya 1. Maliq Pr. 2. Udan. 3. Rangin Pr. 4. Tirem. 5. Tinde Pr.  6. Taisun.

 

Sampan S.M. Zainudin glr Arsa Pati memiliki Isteri bernama :

 

1. Saniah yang melahirkan anak antaranya  : 1, Norhayati Lahir Pada tanggal 02-09-1938. 2. Syahroel. Z Lahir Pada tangal 14-10-1942. 3. Suryati Lahir Pada tangal 27-10-1947 bersuami Roestan tinggal di Malang Jatim. 4. Sumiyati Lahir Pada tangal 04-07-1949 .

 

2. Dari Isteri Kedua Ngoko Melahirkan anak 1. H. Taswin 08-05-1951. 2.  Ahdiat 10-05-1952. 3.Basri 20-09-1955. 4. Normiyati alias  Nelli  05-10-1954.

 

1.      Dari Isteri Ketiga Hikap Melahirkan : 1. Sopian Ahakdari 01-08-1956. 2. Almiyati 30-04-1958 bersuami Ir. Askari. 3. Astra Wijaya 17-07-1960. 4.  Agustina Lailakumari 17-08-1964. 5. Arman 29-10-1966. 6. Indrawati 03-12-1970. 7. Juliana 30-07-1973.

 

2.      Dari Isteri ke Empat Aluh Mariah bin Nanang, surat Silsilah ini dibenarkan oleh Sultan H. Adji Mohammad Salehuddin dibuat di Tenggarong 08 Agustus 2000 dan di Serahkan untuk Sambda Panditha Maharaja Kutai Mulawarman Tentang Surat Waris Berwaris Adat Desa Abid adalah Milik Keluarga Sampan Mohammad Zainudin glr Arsa Pati No. 8.53-3108-2015.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUAK MELANTI (MELAYU KUTAI/KUTAI TENGGARONG) PENDIRI KESULTANAN KUTAI KERTANEGARA ING MARTAPURA

 

Puak Melanti adalah masyarakat yang mendiami wilayah pesisir. Mereka merupakan puak termuda di antara puak-puak Kutai, di dalam masyarakat ini telah terjadi percampuran antara suku kutai asli yaitu Dayak, dengan suku pendatang yakni; Banjar, Jawa dan Melayu. Sehingga Puak ini memang sudah berkembang menjadi kesatuan etnis.

 

Puak ini berkembang pada masa kerajaan Kutai Kartanegara, yaitu kerajaan melayu yang berdiri di Tanah Kutai. Raja pertamanya bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti.

 

Puak ini umumnya mendiami wilayah pesisir seperti Kutai Lama dan Tenggarong.

 

Kelompok ini menggunakan Bahasa Kutai Tenggarong,  yang merupakan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan Suku Kutai Puak Melani.

Dalam perkembangannya puak pantun, punang, pahu dan melanti kemudian berkembang menjadi suku kutai yang memiliki bahasa yang mirip namun berbeda dialek.

Sedangkan sebagian puak sendawar (puak tulur jejangkat) yang tidak berasimilasi dengan pendatang akhirnya hidup di pedalaman, oleh Peneliti Belanda disebut dengan istilah Orang Dayak.

Kisah Pecahnya Puak Tanah Kutai disinilah awal terbaginya dua golongan atau kelompok suku asli di Tanah Kutai, yakni Suku Dayak dan Suku Kutai (haloq).

Haloq adalah sebutan bagi Suku Dayak atau suku asli Tanah Kutai yang keluar dari adat/budaya/kepercayaan nenek moyang (Adat, budaya, serta kepercayaan nenek moyang tersebut masih terlihat dari ciri khas Suku Dayak saat ini).

Mereka yang behaloq (Meninggalkan adat) lebih menerima dan mau berbaur dengan pendatang akibatnya masyarakat ini lebih sering dijumpai di daerah pesisir.

Sebutan haloq mulai timbul ketika suku-suku dari puak-puak kutai di atas mulai banyak meninggalkan kepercayaan lama salah satunya adalah dengan taat pada ajaran Islam, karena adat istiadat, budaya, dan kepercayaan dari suku asli Tanah Kutai tersebut banyak yang bertentangan dalam ajaran Islam.

Kemudian karena puak pantun, punang, dan melani sebagian besar meninggalkan adat atau kepercayaan lama mereka, maka mereka mulai di sebut 'orang haloq' oleh puak lain yang masih bertahan dengan kepercayaan lamanya (kepercayaan nenek moyang).

Dan puak yang masih bertahan dengan adat/kepercayaan lamanya sebagian besar adalah puak sendawar (puak tulur jejangkat), meskipun sebagian kecil ada juga suku dari puak sendawar yang meninggalkan adat lama (Behaloq). Sejak itulah orang haloq dan orang yg bukan haloq terpisah kehidupannya, karena sudah berbeda adat istiadat.

Lambat laun orang haloq ini menyebut dirinya 'orang kutai' yang berarti orang yang ada di benua Kutai atau orang dari wilayah Kerajaan Kutai.

Sejak itu lah kutai lambat laun mulai menjadi nama suku, yang mana suku kutai ini berasal dari puak pantun, punang, pahu dan melani dan sebagian kecil puak sendawar.

Sekarang Suku Kutai sudah banyak bercampur dengan etnis lain. Terlihat dari budayanya yang merupakan hasil akulturasi dari beberapa budaya suku lain.

 Terutama Kutai Kartanegara yang berasal dari Jawa dan bercampur dengan suku asli tanah kutai (saat ini disebut Suku Dayak) tersebut.

Puak sendawar yang sebagian besar masih bertahan dengan adat/kepercayaan lama kemudian berpencar membentuk kelompok-kelompok suku pedalaman dan terasing.

Mereka kini menjadi suku Tunjung dan Benuaq. Mereka adalah suku yang disebut Suku Dayak pada masa kini.

Dayak adalah sebutan yang dipopulerkan oleh orang Belanda dan peneliti asing, di mana mereka menyebut suku - suku asli yang mendiami pedalaman Kalimantan.

Sehingga istilah dayak sendiri sebenarnya bukan berasal dari leluhur orang Kalimantan itu sendiri.

Oleh karena itu masih ada beberapa dari Suku Dayak enggan disebut Dayak.

Mereka lebih memilih disebut subsukunya, seperti orang Tunjung orang Benuaq.

Jadi yang disebut Suku Kutai sekarang ini adalah suku dari puak pantun, punang, pahu dan melani yang mudah berakulturasi dengan pendatang dan perlahan meninggalkan adat lamanya.

Sedangkan Suku Dayak Tunjung dan Benuaq adalah dari puak sendawar yang tetap teguh memegang keyakinan leluhur.

Jadi Suku Kutai bukanlah suku melayu muda akan tetapi adalah suku melayu tua, sama seperti Suku Dayak. Pengelompokkan Suku Kutai kedalam ras melayu muda hanya berdasarkan Sosio-religius atau kultural, bukan berdasarkan "darah" (melayu tua).

Problematika klasifikasi Dayak atau Melayu, perubahan Suku Kutai secara drastis setelah masuk Islam, hampir menghapus jejak asal muasalnya yaitu Suku Dayak Lawangan.

Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu menghilangkan budaya Dayak pada Suku Kutai dengan cepat.

Istilah "haloq" yang melekat pada Suku Kutai yang berarti "meninggalkan adat lawas" digunakan sebagai kebanggaan bagi yang be"halooq".

Tapi bagi Tunjung-Benuaq istilah itu sebagai stigma karena tidak menghargai warisan leluhur.

Sehingga Kutai kehilangan jejak Kaharingan/Lawangan, walaupun sebagian kecil ada yg tersisa.

Akibatnya orang lebih yakin Kutai adalah Melayu, padahal tidaklah demikian.

Tentu saja segala hal dalam adat lawas dianggap syirik (bertentangan dengan agama) jadi harus dimusnahkan dan ditinggalkan.

Secara jati diri, suku Kutai merupakan pecahan dari suku Dayak yang berasimilasi dengan suku lain (terutama Melayu) lalu menjadi Melayu dan mayoritas menganut Islam setelah Islam datang.

Suku Kutai serumpun dengan suku Dayak rumpun Ot Danum, dan juga Banjar.

Secara etnis, identitas, budaya dan Bahasa suku Kutai merupakan salah satu rumpun Melayu.

Suku Kutai serumpun dengan suku Melayu lainnya khususnya di Kalimantan.

Suku Kutai merupakan asimilasi antara suku Dayak & Melayu yang kemudian menjadi etnisitas tersendiri yang berbeda dengan Melayu maupun Dayak.

Sulitnya data semakin mempersulit para peneliti untuk mencari jejak asal muasal Suku Kutai.

Membuat hasil penelitian terlihat ambigu bahkan samar.

Peneliti sering kali mengklasifikasikan berdasarkan bahasa, sedangkan menurut orang Kutai dan Tunjung-Benuaq mengenal tradisi lisan yang mengklasifikasikan golongan berdasarkan budaya dan sejarah budayanya serta geneologi.

Jadi sampai sini jelas bahwa suku Kutai merupakan etnis tersendiri/mandiri yang terpisah dari Dayak maupun Melayu.

Asal puak melanti, sebagai mana wilayah sekitarnya seperti:

— Buntang (sekarang Bontang)

— Sambiran (sekarang Semberak/Samarinda)

— Santan (sekarang Santan)

— Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rijang, Rihang, (yang sekarang merupakan nama-nama desa yang sebagian besar tiada didiami oleh manusia lagi).

 

Selanjutnya silsilah menyebutkan negeri-negeri:

— Binalu, Semboran, Penyuangan, Senawan

— Sangasangaan (sekarang Sanga-sanga kota minyak)

— Kembang (sekarang menjadi desa Muara Kembang)

— Sungai Samir, Dundang

— Manggar (sekarang desa dekat Balikpapan)

— Tanah Habang (dekat Balikpapan)

— Susuran dagang, Tanah Malang, Sambuni

— Pulau Atas (desa dalam Kecamatan Anggana sekarang)

— Karang Asam dan Karang Mumus (sekarang merupakan bagian Ulu dan Ilir Kota Samarinda)

— Luah Bakung, Sambuyutan (Sambutan), Mangkupalas, 8 5) (yang kesemuanya merupakan desa-desa dalam daerah Kota-madya Samarinda sekarang) Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar nama yang disebut dalam silsilah, sampai sekarang masih ada, yang pada umumnya terletak di sekitar Kecamatan Anggana, di sekitar delta Sungai Mahakam, dan pantai laut arah ke utara dan ke selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1. Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara dibagi ke dalam lima "parwa" (bab), yang masing-masing berjudul tersendiri:

1.   Pustaka Kathosana Rajyarajya i Bhumi Nusantara

2.   Pustaka Rajyawarnana Rajyarajya i Bhumi Nusantara

3.   Pustaka Kertajaya Rajyarajya i Bhumi NUsantara

4.   Pustaka Rajakawasa Rajyarajya i Bhumi Nusantara

5.   Pustaka Nanaprakara Rajyarajya i Bhumi Nusantara

Sebagai buku dari hasil simposium/seminar) antara para ahli (sejarah) dari seluruh Nusantara, dalam Gotrasawala yang berlangsung pada tahun 1599 Saka (1677 M), sedangkan penyusunan naskah-naskahnya menghabiskan waktu hingga 21 tahun (selesai 1620 Saka, 1698 M). Tim Penyusun Pangeran Wangsakerta.

 

2. Dari Swapraja Ke Kabupaten Kutai Jakarta, 1979 Proyek Penerbitan Buku Bacaan Dan Sastra Indonesia Dan Daerah Pengasuh Dewan Redaksi  Penerbitan Kutai Masa Lampau, Kini, Dan Esok.  Penulis Asli Amin.

 

3. Buku "Sejarah Masuknya Islam Di Kaltim" Karya Kang Tarto.

4. Menjawab Tuduhan Suku Dayak Adalah Pendatang Di Kalimantan. Penyalin Sapriyun, S. ST.Pi,

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUKTIAN KERUNTUHAN KERAJAAN SAGARA DI MUARA KAMAN BUKAN KARENA ANEKSASI DARI KESULTANAN KUTAI KERTANEGARA ING MARTAPURA MELAINKAN DI KUASAI OLEH VOC DI TAHUN 1635 DENGAN PENYERANGAN 7 BUAH KAPAL PERANG DENGAN SENJATA MERIAM DI PIMPIN OLEH KAPTEN GERIT THOMASSEN POOL

SEJARAH SUKU KUTAI DALAM PEMERINTAHAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

TENTANG DINASTY WANGSAWARMAN WARMANDEWA